Jumat, 29 Maret 2013

Karya : Grasia Dwi Prasetyo Adi



LONELY
Nama   : Grasia Dwi Prasetyo Adi
NIM/Jurusan     : 113654029/Prodi Pend. Sains 2011
Email/No HP     : glavelysunberd@gmail.com/085785664443

            Di malam yang dingin duduklah seorang pemuda didepan rumah sambil tersenyum memandangi hiruk pikuk orang yang sedang membeli ornamen telur untuk menyambut Paskah. Pemuda  tersebut bernama glavely. Ia memikirkan tentang ucapan Bu Ririn padanya “No Victory without Sacrifice”.

Sembilan bulan lalu di Liberty High School, bel berbunyi tanda aktivitas pelajaran dimulai dan dari salah satu ruang kelas tampak seorang pemuda  yang sedang memperkenalkan diri. Pemuda  tersebut bernama Glavely Mihael Keehl Sunberd. Ia  merupakan murid pertukaran pelajar dari Indonesia yang penampilannya aneh dengan celana penuh dengan sobekan  pada bagian lutut, memakai jaket dengan  jamper hingga hampir menutupi kedua matanya sambil terus tersenyum seperti orang gila. Sampai teman  sekelasnya yang merupakan siswa kelas 3 jurusan biologi menganggap dirinya sudah kehilangan akal sehat.
Tibalah awal musim semi dan untuk menyambutnya  pihak sekolah akan mengadakan   pesta buah. Vely mendapatkan tugas untuk memetik buah di kebun bersama keempat siswa lainnya Agnes, Oscar, Philip dan Missa. Siang harinya, mereka berlima berangkat dari sekolah menuju kebun yang terletak dibukit belakang sekolahan mereka. Saat di perjalanan Philip yang merupakan saudara kembar Oscar selalu  menakuti Agnes dengan menceritakan cerita horor tentang kebun sekolah. Setiba di depan kebun Agnes ketakutan, konon katannya di kebun itu terkenal horor karena kabar tersiar dari dalam kebun tersebut terdengar lolongan serigala. “Aduh, aku takut” kata agnes sambil memegang pundak Oscar. Jangan takut kita akan baik- baik saja” jawab Oscar. “Ha…..ha iya benar tidak usah takut, bagaimana kalau yang kita suruh masuk si gila Ly saja” usul Philip. Baiklah kalau begitu biar aku saja sama Ly yang memetik buah di dalam kebun, kalian semua penakut. Ayo Ly!sahut Missa. Akhirnya Missa dan Vely memutuskan untuk masuk kedalam kebun.
Hari semakin sore dan sang surya ingin menyembunyikan dirinya. Tetapi mereka berdua keasyikkan memetik buah hingga lupa waktu. Tiba - tiba dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing. Awalnya lolongan tersebut terdengar samar - samar tapi lama kelamaan lolongan tersebut terdengar sangat jelas dan seperti hewan buas yang sedang mencari mangsa. Missa lama kelamaan merasa ketakutan hingga bulu romanya berdiri dan akhirnya memanggil Velly untuk mengambil keranjang yang berisi buah dan cepat- cepat lari bersama – sama. Akan tetapi pada saat lari Vely terjatuh dan tertinggal di Kebun.Sementara itu di depan kebun, Oscar, Agnes dan Philip melihat Missa yang lari ketakutan keluar dari kebun sambil berteriak – teriak “Ada serigala, ayo lari”. Dan mereka berempat akhirnya lari pergi dari kebun tanpa ingat bahwa Vely masih di dalam kebun.
Keesokan harinya pada saat festival musim semi semua warga sekolah merayakan pesta buah. Banyak sekali terdapat basar yang menjual aneka buah, jus dan makanan serta permainan seperti lomba makan jagung, memasak, lempar tomat, dan lain – lain. Akan tetapi dari hiruk pikuk kemeriahan yang terjadi Oscar, Agnes, Philip dan missa masih ketakutan karena Vely belum masuk sekolah karena kejadian kemarin. Bu Ririn selaku guru bahasa mandarin sekaligus wali kelas mereka mengecek muridnya apakah sudah siap untuk memeriahkan pesta buah. Saat melihat Oscar, Agnes, Philip dan Missa yang tampak bingung, Bu Ririn akhirnya mendekati mereka dan menanyakan mengapa mereka kebingungan. Agnes yang tidak tahan untuk memendam kejadian kemarin akhirnya berkata “Bu, Vely belum masuk sekolah. Kemarin saat kami memetik buah di kebun Vely kami tinggal di dalam kebun karena kami berempat ketakutan. Maafkan kami, Bu”. Jawab Bu Ririn “Omong apa sih kalian, itu  Velly ada di stan buah sambil sedang menunggu pembeli. Ya sudah Ibu mau mengecek teman kalian yang lainnya.”
Missa menghampiri Vely dan bertanya “ Ly kamu tidak apa – apa ,Apakah kamu terluka ? Maaf ya kami berempat telah meninggalkanmu di dalam hutan”. Jawab Ly sambil tersenyum “ Aku tidak apa – apa kok hanya jatuh dan tersedak. Ternyata suara lolongan tersebut hanya anak anjing yang tersesat dan sekarang kupelihara dirumah. Aku sudah memaafkan kalian kok tenang saja, kita kan teman.” Sahut Philip “Iya benar, sekarang kita berlima adalah teman.” “Langit cerah, awan biru, burung berkicau, bunga menari, namun angin tidak akan dapat merasakan apapun” gambaran itu selalu terpikirkan oleh Ly sambil tersenyum ia memandangi teman- temannya yang sedang bergembira.
            Pada saat malam menjelang Halloween dirumah Ly. “Ly, kamu tidak apa – apa kan Ly kamu kenapa ?” tanya  Ibu Ly. Ly tak bisa berkata apa – apa, ia hanya dapat batuk yang di ikuti muntahan darah yang keluar dari mulutnya.  Keesokan harinya Ly sudah mulai pulih dan cepat – cepat ingin kesekolah karena di sekolah Ly ingin bertemu dengan teman – temannya dan membicarakan perayaaan Hallowen yang sebentar lagi akan tiba.
Pelajaran mandarin dimulai dan Bu Ririn memberikan beberapa soal untuk diartikan ke bahasa Mandarin. Semua siswa dengan cepatnya mulai mengerjakan soal dengan menggunakan segala cara ada yang kemarin belajar ada pula yang hanya mengandalkan kertas contekan. Dari semua siswa yang sibuk dengan soalnya Vely hanya tersenyum sambil mengeluarkan air mata dan melihat soal nomor lima yang berbunyi “Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi HAM.” Menurut Vely apakah itu benar menurutnya negaranya sendiri mempunyai sebuah tikus besar yang dilindungi dan memakan negara Indonesia itu sendiri. Melihat Vely yang kelihatan aneh Bu Ririn mendekati vely dan memberi nasehat “No Victory without Sacrifice.”Akan tetapi vely hanya tersenyum sambil memandang Bu Ririn.
Saat jam Istirahat di kantin, Vely sedang asyik berbicara dengan Agnes tentang bagaimana persiapan trick or treat nanti malam. Ia membayangkan memakai baju pocong hantu dari negaranya sendiri serta  mengungkapkan bahwa sebenarnya Ly menyukai Agnes. Akan tetapi sebelum Agnes menjawab pertanyaan Ly tiba – tiba dari kejauhan tampak Philip datang dan menyampaikan kabar  bahwa Oscar kecelakan dan sekarang berada di rumah sakit celtic. “Ayo cepet ! Kita jenguk Oscar dan Ly, tolong hubungi Missa untuk segera menyusul ke rumah sakit celtic” kata Agnes dengan cemas. Akhirnya mereka segera pergi meninggalkan sekolah untuk menjenguk Oscar.
Setiba di dalam rumah sakit  mereka berempat segera menanyakan ruangan Oscar dirawat kepada suster. Kata suster tempat ruangan Oscar dirawat terletak pada kamar nomor 21. Mereka berlari menyusuri sepanjang koridor rumah sakit dengan perasaan khawatir. Setelah beberapa menit kemudian Missa melihat Oscar yang sedang tidur terbaring di tempat tidur. “Hai teman – teman Oscar disini !.”
Saat di kamar pasien Ly dan Agnes menemui Oscar yang sedang siuman. “Os kamu tidak apa – apa kan?” tanya Agnes sambil menggenggam tangan Oscar. Kata Oscar “ Aku baik – baik  saja, tadi waktu mengendarai sepeda motor menuju sekolah tanganku kram dan tergelincir. Dan pada saat aku tertidur dalam mimpi aku memikirkan dirimu. Agnes maukah kamu jadi pacarku?”  Sebelum menjawab “iya” Agnes memandang Vely yang mengangguk sambil tersenyum kepadanya. Akhirnya Agnes dan Oscar berpelukan disusul Vely yang keluar dari ruangan sambil tersenyum meneteskan air mata dan berpikir “Mengapa beberapa kabel data dapat membuat kepastian dalam menjalankan sebuah program, tetapi hatiku tidak dapat memastikan perasaanmu”.
Malam Halloween telah tiba, Vely dan Missa sedang asyik mencari permen dari rumah warga. Hal ini merupakan pengalaman pertama bagi Vely karena di negaranya tidak ada pesta seperti ini. Sambil tersenyum “Missa di negaraku tidak ada pesta seperti ini. Pertama kali aku merasakan hal yang semanis ini”. Kata Missa “ Tahun depan kita seperti ini lagi, minta permen ke tetangga atau mengerjainnya.” Saat asyik berbicara tiba – tiba  dada Vely serasa terhentak dan sakit. Dan Vely segera lari pulang “Missa aku pulang dulu ya?”. Kenapa kamu cepat – cepat pulang ?”
Malam harinya Vely batuk darah dan semakin lebih parah. Ibunya ketakutan dan akhirnya memanggil ambulan. Saat di periksa dokter dengan alat X – Ray ternyata di dalam paru – paru Vely  terdapat biji pohon pinus yang berkecambah didalamnya dan di perkirakan sisa hidupnya tinggal enam bulan lagi. Dokter menyarankan agar Vely segera di operasi agar nyawanya tertolong. Akan tetapi karena himpitan perekonomian, serta Ayah Vely terkena tuduhan telah meracuni rekan kerja keluarganya, mengakibatkan Ibu Vely menunda proses operasi dan memutuskan membeli obat penghilang rasa. “Bu, aku sayang Ibu ?”. Bu Ana yang merupakan Ibu Vely hanya bisa menangis ketika dipeluk oleh buah hatinya. “Bu kenapa menangis? Vely sudah tahu kalau umur Vely tinggal sedikit, saat Vely jatuh di kebun Vely tidak sengaja tersedak biji pinus. Vely dapat menerimanya Bu,” Vely tersenyum.
Saat puncak wisuda Vely terlihat pucat sambil ditemani Ibunya. Teman – temannya datang menghampiri Vely. “ Vely tahun depan kita akan bersenang – senang kembali.” celetuk Missa dan Philip. “Terimakasih ya Vely karena kamu, aku bisa bersama Oscar.” kata Agnes. Vely hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dalam benak Vely ia tidak ingin temannya sampai cemas karena tahu kalau ia sakit parah.
Mengingat kenangan itu semua Vely menjadi menangis dan masuk kedalam kamar. Ia menyalakan komputer dan membuka situs jejaring sosial. Ia melihat status teman – temannya yang sedang mengikuti perayaan misa paskah. Ia mengingat masa – masa bersama dengan teman, merasakan jatuh cinta, persahabatan, dan kasih sayang. Kemudian ia menuliskan sebuah puisi di dinding beranda. Yang bertuliskan :
                                    LONELY
            Tuhan apakah salah bila ku hidup
            Tuhan apakah salah bila ku bernafas
            Tuhan apakah salah bila ku hirup udaramu
                                    Kuyakin Tuhan tak salahkanku
                                    Kuyakin Tuhan bri ku harapan
                                    Kuyakin Tuhan bri ku talenta
            Sepi sunyi sendiri
            Suram tertahan luka
            Sedih tangis perih
Bukan salah Tuhan ku begini
Begini merupakan kehendak – MU
Bahwa semua itu punya makna
Yang tersembunyi
Tiba – tiba Bu Ririn muncul lewat situs jejaring sosial. Saat itu pula Vely memberikan jawabannya “No Victory without Sacrifice seperti lilin yang mempunyai tugas untuk memberikan penerangan tanpa henti sampai ia meleleh  dan kita sebagai manusia harus bisa menolong orang lain tanpa pamrih karena kita merupakan makhluk ciptaan Tuhan”. Akhirnya Vely memejamkan mata sambil tersenyum dalam kesepian di malam Paskah.  
Sepuluh tahun kemudian, beberapa anak kecil sedang asyik bermain sepakbola. Dari kejahuan tampak anak laki – laki berlari dengan pakaian compang – camping sambil menangis dikarenakan ingin bermain sepakbola, akan tetapi anak lain tidak mau menerimanya untuk ikut bermain sepakbola karena ia dianggap kumuh.
“Ibu,  tadi waktu aku main sama anak – anak. Tiba – tiba datang anak kumuh yang ingin main bareng, tapi langsung saya usir sebab baunya tidak enak” Kata anak. “Tidak boleh seperti itu, Kita harus baik terhadap siapapun juga walaupun ia berbeda dengan kita. Bayangkan nanti kalau kita juga seperti mereka yang tidak diterima oleh kebanyakan masyarakat” Kata Ibu Agnes. “Iya Ibu benar. Bu aku merasa bersalah, tapi tadi saat anak tadi nangis ada kakak laki – laki datang sambil tersenyum memberi permen dan mengajak ia bermain bola. Kalau tidak salah dengar kakak laki – laki tadi bernama Glavely”. Mendengar kata – kata dari sang anaknya tadi Ibu Agnes hanya tersenyum sambil menggendong anaknya untuk pulang kerumah bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda disini. Tuhan Yesus memberkati. GBU